
Tulang Bawang, RedMOL.ID – Aksi perundungan (bullying) yang terjadi di salah satu SMP di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, menjadi sorotan publik setelah rekaman videonya viral di media sosial. Peristiwa tersebut memicu keprihatinan karena dalam kurun waktu sepekan terjadi dua insiden kekerasan di lingkungan sekolah yang sama, salah satunya mengakibatkan seorang siswa mengalami patah tulang tangan.
Dalam video yang beredar luas, terlihat seorang siswa menjadi korban penganiayaan di dalam ruang kelas. Korban dipukul dan dibanting oleh siswa lain, sementara sejumlah teman sekelas menyaksikan kejadian tersebut tanpa mampu menghentikan aksi kekerasan itu.
Menindaklanjuti peristiwa tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang bergerak cepat dengan mendatangi kediaman siswa yang mengalami patah tulang. Bersama pihak sekolah dan instansi terkait, Dinas Pendidikan juga memberikan pembinaan kepada para siswa yang terlibat dalam aksi perundungan maupun perkelahian.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang, M. Ami Iswandi Ismed Balaw, mengatakan pihaknya telah memfasilitasi mediasi antara keluarga korban dan pelaku. Hasilnya, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara damai.
"Kami sudah mendatangi langsung rumah korban yang mengalami patah tangan dan melakukan pembinaan kepada para siswa yang terlibat. Proses mediasi dan kesepakatan damai antara pihak keluarga pelaku dan korban sudah dilaksanakan," ujar Ami, Selasa (28/7/2026).
Meski upaya penyelesaian secara kekeluargaan telah ditempuh, proses hukum tetap berjalan. Satreskrim Polres Tulang Bawang memastikan tengah melakukan penyelidikan terhadap dua peristiwa kekerasan yang terjadi pada 18 Juli dan 24 Juli 2026 untuk memastikan seluruh fakta terungkap sesuai ketentuan hukum, sekaligus memperhatikan mekanisme perlindungan anak.
Kasat Reskrim Polres Tulang Bawang, AKP Apfryyadi Pratama, menegaskan pihaknya sedang mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak guna mengklarifikasi rangkaian kejadian tersebut.
"Kami saat ini melakukan penyelidikan dan klarifikasi terkait dua rentetan peristiwa kekerasan yang melibatkan para siswa di sekolah tersebut guna memastikan kepastian hukum serta penanganan anak," kata AKP Apfryyadi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi siswa yang mengalami patah tulang tangan kini berangsur pulih, meski masih menjalani masa pemulihan sehingga belum dapat mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Sementara itu, korban dalam kasus perundungan yang videonya viral telah kembali mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan di lingkungan sekolah serta penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik. Selain penegakan aturan, kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan aparat penegak hukum dinilai menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kekerasan antarsiswa.
"Penanganan tidak hanya berfokus pada proses hukum, tetapi juga pada perlindungan dan pembinaan anak agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi," ujar AKP Apfryyadi Pratama. (Redaksi)
